Telekomunikasi jadi mudah dan berisi.

JAKARTA, JUMAT – Di Indonesia, begitu tutur Deputi Bidang Informasi & Pengembangan Sistem Kearsipan dari Arsip Nasional RI (ANRI) Akhmadsyah Naina, posisi digital archivist sampai saat ini belum diakui keberadaannya. Sementara 70% informasi di seluruh dunia justru sudah dalam bentuk digital. 

Disiplin ilmu untuk digital archivist di tanah air memang belum ada, begitu jelas Akhmadsyah yang berbicara dalam acara pengenalan produk scanner dokumen di Jakarta. Padahal, “sudah ada kebutuhan untuk digital archivist,” tegasnya. Sebagai informasi, digital archivist adalah orang yang bertanggung jawab atas sistem dokumentasi/pengarsipan elektronik alias dalam bentuk digital, mulai dari dokumentasi, pengelolaan, sampai cara aksesnya.

Akhmadsyah mencontohkan bagaimana arsip-arsip DPU DKI seharusnya bisa terselamatkan seandainya lembaga pemerintahan tersebut sudah menerapkan sistem kearsipan digital. Tidak seperti sekarang, banyak dokumen penting yang rusak/hilang karena terendam banjir besar beberapa waktu lalu. Dokumen-dokumen penting tim Komnas HAM Anak pun tidak akan musnah tanpa bekas ketika kantornya dilalap kebakaran andaikata ada pengarsipan digital.

Namun Akhmadsyah tidak menyangkal bahwa ada kendala besar – di luar kelangkaan digital archivist – dalam mendigitalkan data/informasi, termasuk untuk microfilm yang sekarang bahan bakunya sudah tidak lagi diproduksi. “Bila akan didigitalkan atau di-scan, ada biayanya,” akunya. Proses digitalisasi dokumen melalui scanner ini diperlukan untuk dua kepentingan, preservasi dan akses.

Biaya itu bisa cukup besar, mengingat harga scanner saja cukup tinggi, sementara dokumentasi digital belum menjadi prioritas utama, apalagi di daerah. Contohnya Canon DRX-10C. Harga mesin yang mampu melarik 100 lembar kertas A4 per detiknya itu US$ 30.000. 

“Apakah kita menunggu sistem kearsipan elektronik?” tanya Akhmadsyah. Menurutnya tidak, karena sejak tahun 2004 ANRI sudah mengembangkan, menguji-cobanya, dan terbukti bisa jalan. Ia mengatakan, saat ini yang diperlukan adalah pedoman dan standar tentang pengelolaan arsip digital.

“Kontrol yang baik setelah informasi direkam dalam bentuk arsip adalah kunci keberhasilan (sistem kearsipan digital),” pesan Akhmadsyah. “Yang penting aplikasinya untuk akses kembali arsip, “tambahnya menggarisbawahi.

Wiwiek Juwono

source : Juwono, Wiwik . Jumat, 4 April 2008 . “Indonesia Membutuhkan Digital Archivist” . www.kompas.com/tekno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: