07.20.08

Komputer yang Tahu Segalanya

Ditulis dalam Humour Tekno dan Telco tagged , , pada 1:24 am oleh Wisnhu Ajie

Seseorang insinyur baru saja berhasil menciptakan sebuah komputer baru. Insinyur itu bermaksud menjual hak patennya kepada sebuah perusahaan komputer. Direktur perusahaan itu masih muda. Untuk memperlihatkan kemampuan komputernya itu, ia meminta direktur itu mengajukan sebuah pertanyaan.

“Baik,” kata direktur muda itu. Ia duduk lalu mengetik,

“DI MANA AYAHKU?”

Tak lama kemudian keluarlah jawaban, “AYAHMU SEDANG MEMANCING DI TORONTO”.

“Komputer payah,” kata direktur itu, “ayahku telah meninggal 20 tahun lalu!”

Tapi insinyur itu tetap yakin dengan kemampuan komputernya. “Cobalah anda tanya dengan cara lain,” usulnya.

Direktur itu mengetik sekali lagi, “DI MANA SUAMI IBUKU?”

Komputer itu menjawab, “SUAMI IBUMU TELAH MENINGGAL 20 TAHUN LALU. AYAHMU BARU SAJA MENDAPATKAN IKAN TONGKOL SEBERAT SATU KILO.”

06.22.08

PT Telkom Membangun Kerajaan Industri Content.

Ditulis dalam Berita Manajemen, Operator Telekomunikasi tagged , , , pada 3:05 am oleh Wisnhu Ajie

“Saat para penyedia jaringan lain di Indonesia sibuk mengembangkan jaringan mereka, PT Telkom telah mulai membangun kerajaan industri content masa depan. “

Wisnhu Ajie F.

Industri telekomunikasi di Indonesia tidak jauh berbeda dengan industri telekomunikasi di mana pun di dunia. Semuanya sibuk mengejar adanya teledensitas. Bagi para penyedia jaringan mengejar teledensitas sama halnya dengan mengejar pertambahan pelanggan dan perluasan market. Kedua hal ini akan secara simultan menambah revenue ke dalam pendapatan mereka. Tetapi apa yang akan terjadi saat pasar mencapai titik jenuh dan semua teledensitas hampir terpenuhi? Tentunya layanan content akan menjadi sasaran pengembangan berikutnya. Apalagi jika telah terjadi apa yang sering digembar-gemborkan sebagai network convergence. Jaringan akan menjadi sedemikian kompleks dan menjadi sebuah sistem mess sebagai penghantar layanan content.

Di Indonesia perusahaan besar yang sudah dengan lihai melihat trend ini adalah PT Telkom. Usahanya merambah dunia content dengan mengakuisisi perusahaan software kecil dengan harga yang relatif tinggi bukan tanpa alasan. Tahun ini saja PT Telkom sudah menyiapkan dana total $240 juta untuk mengakuisisi enam perusahaan dalam negeri yang bergerak di bidang teknologi informasi (TI).

Direktur Enterprise dan Wholesale Telkom, Arief Yahya mengungkapkan, keenam perusahaan TI tersebut merupakan perusahaan berkembang yang fokus melayani pelanggan di bidang finansial dan perbankan, pemerintahan, perdagangan dan pelayanan, industri perdagangan, manufaktur perdagangan, serta pendidikan.

Salah satu perusahaan TI yang telah selesai diakuisisi adalah PT Sigma Cipta Caraka sebuah perusahaan TI lokal yang bergerak melayani pelanggan di bidang finansial dan perbankan. Perusahaan tersebut diakuisisi dengan nilai $35 juta. Sedangkan untuk kelima perusahaan lain Arif mengungkap, “Kami menyiapkan anggaran US$ 40 juta tahun ini untuk masing-masing perusahaan lainnya. Sama seperti akuisisi Sigma.” Demikian cerita dari Bapak Arief Yahya seusai menerima sertifikasi ISO 9001 dan ISO 9004, di Merchantile Athletic Club, Wisma Metropolitan, Jakarta, Rabu malam (27/2/2008) [4].

Tak hanya perusahaan TI dalam negeri yang diincar oleh PT Telkom, melalui anak perusahaannya, PT Telkom Indonesia Internasional (TII), PT Telkom juga berniat melebarkan sayap untuk mengakuisisi perusahaan TI Regional. Vice President Public & Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia, mengungkapkan pihaknya tengah fokus menjajaki kemungkinan akuisisi tersebut di 12 negara di Asia Tenggara dan Selatan melalui anak usahanya, PT Telkom Indonesia Internasional (TII). Negara-negara yang dimaksud ialah Papua Nugini, Filipina, Brunei Darusalam, Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, dan beberapa negara lainnya. Tak hanya itu saja, TII yang dibentuk Telkom menjelang akhir 2007 lalu juga akan menyasar pasar negara berkembang lain di luar regional Asia Tenggara. Eddy menandaskan, TII juga tengah menjajaki sejumlah proyek di Ekuador, Nigeria, Arab Saudi, Yaman, Zambia, dan di beberapa negara lainnya di Afrika.

Hal yang nyata-nyata telah terjadi di tingkat regional Asia Tenggara adalah akuisisi PT Telkom terhadap perusahaan berbasis TI asal Malaysia yakni Scicom. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Business Process Outsourcing dan Contact Center yang juga memiliki sejumlah kantor operasi di Inggris, India, dan Amerika Serikat [5].

Berbeda kiprah dengan PT Telkom dua “raksasa” industri telekomunikasi di Indonesia yakni PT Indosat Tbk dan PT Excelindo Pratama sedang asyik-asyiknya sibuk dengan pengembangan jaringan. Entah itu memperluas cakupan atau pun memperbesar kapasitasnya.

PT Indosat Tbk, contohnya, telah menganggarkan $ 1 milliar sebagai biaya capex (capital expenditure). Biaya tersebut akan digunakan untuk melakukan ekspansi jaringan di tahun 2007 saja. Hal itu diungkap Deputi Presiden Direktur Indosat, Kaizad B. Heerjee, yang mengatakan hingga akhir 2006 lalu jumlah BTS yang dimiliki Indosat sebanyak 7.000 unit. “Jadi di akhir tahun (2007-red) BTS yang kami miliki akan mencapai lebih dari 10.000 unit,” ujarnya di Bandung. Hal serupa juga diungkap Direktur Regional Sales Indosat, Wityasmoro Sih Handayanto, dari coverage yang ditargetkan di 2007 sekitar 45 persennya dialokasikan untuk pembangunan di luar Jawa yang sebelumnya kurang dari 30 persen [6].

Untuk tahun 2008 ini Indosat masih berfokus pada pengembangan jaringan. Hal ini bisa dilihat dari sample salah satu cabangnya. PT Indosat Tbk Cabang Yogyakarta, seperti diungkap Kepala Cabang Indosat Yogyakarta, Roganda P Manullang, Selasa 22 Januari 2008. Untuk “merealisasikan target pelanggan 1,5 juta orang pada tahun ini, PT Indosat cabang Yogyakarta akan menginvestasikan dana senilai Rp 90 miliar untuk membangun 30 base transceiver station atau BTS di wilayah DI Yogyakarta. Penambahan BTS ini juga diharapkan bisa memperbaiki kualitas jaringan sehingga loyalitas pelanggan tetap terjaga.” [7]

Bukan hanya di jaringan terestrial, PT Indosat telah menyiapkan dana sebesar US $ 300 juta untuk program pengadaan dan peluncuran satelit pada tahun 2009. Indosat telah menunjuk perusahaan asal Perancis, Thales Alenia Space France, sebagai mitra pengadaan dan peluncuran Satelit Palapa D.

Direktur Utama PT Indosat Johnny Swandi Sjam, Jumat, 29 Juni 2007 di Jakarta, menjelaskan, Satelit Palapa D akan diluncurkan di China. Satelit ini untuk mengganti Satelit Palapa C2 yang masa operasionalnya akan berakhir tahun 2011 di slot 113 derajat Bujur Timur. Menurut Johnny, Indosat akan mendanai proyek Satelit Palapa D melalui sumber internal dan eksternal perusahaan. Nilai proyek itu meliputi biaya pembuatan satelit, peluncuran, asuransi peluncuran, peningkatan kapabilitas stasiun pengendali satelit, serta pelatihan bagi staf Indosat [8].

Lalu bagaimana dengan derap langkah PT Excelcomindo Pratama Tbk (atau lebih dikenal sebagai XL)? Salah satu raksasa telekomunikasi lain di Indonesia itu lebih memprioritaskan peningkatan kapasitas jaringan layanan di 2008 ini dibandingkan memperluas jangkauan sinyalnya.

Dari anggaran belanja (capital expenditure) yang disiapkan tahun ini, sekitar US$ 650 juta, kata Hasnul, 70 persen diantaranya khusus dialokasikan untuk memperkuat kapasitas jaringan di 2.000 BTS yang telah terpasang di 11.000 BTS yang telah ada. Sementara 30 persen sisanya akan kami gunakan untuk membangun sekitar 3.000 BTS baru yang mayoritas kami alokasikan pembangunannya di kawasan timur Indonesia,” ungkapnya lebih lanjut.

Semua BTS yang dimiliki bukan sepenuhnya untuk konsumsi sendiri. Rencananya XL juga akan menyewakan sekitar 7.000 menara pemancar telekomunikasinya kepada operator lain. Beberapa diantaranya disewa oleh PT Bakrie Telecom Tbk (Esia), PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (Ceria), dan PT Natrindo Telepon Seluler, dan PT Hutchison CP Telecommunication [9].

Selain mengembangkan jaringan GSM mereka di dalam negeri, sekaligus kemudian merintis bisnis persewaan tower, PT Excelcomindo Pratama juga telah mengembangkan jaringan untuk koneksi internet mereka. XL secara resmi mulai mengoperasikan jaringan kabel laut antar negara – Batam Sungai Rengit Cable System (BRCS), guna menghadirkan koneksi internasional yang berkualitas. Beroperasinya jaringan kabel bawah laut yang membentang antara Batam hingga Sungai Rengit, Johor, Malaysia ini sekaligus juga menjadikan XL sebagai operator selular dengan jaringan backbone terluas di Indonesia.

Sistem transmisi kabel bawah laut BRCS yang menelan investasi sebesar US $10 juta ini terdiri atas 48 serat inti (cores) dengan kapasitas awal 1xSTM-64. Kapasitas ini dapat ditingkatkan menjadi 24xSTM-64 dengan menggunakan teknologi DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing), yaitu teknologi terbaru serat optik yang memungkinkan kapasitas transmisi untuk satu serat inti bisa ditingkatkan dengan biaya upgrade yang rendah (1 STM-64 setara dengan 10 Gbps). Selain itu, bila dibandingkan dengan transmisi satelit, sistem transmisi BRCS memiliki waktu tunda (delay) yang sangat rendah. Dengan demikian BRCS memiliki keunggulan dalam hal kapasitas, kecepatan dan waktu tunda [10].

Meskipun masih memfokuskan diri dalam hal pembangunan jaringan bukan berarti kedua perusahaan terakhir (Indosat dan XL) tidak melihat potensi dari industri content sebagai industri masa depan. Indosat sendiri sudah memiliki anak perusahaan yang sebagian usahanya bergerak di bidang content yakni PT Indosat Mega Media atau IM2. Meskipun kenyataannya belum fokus total di bidang content dan masih bergerak di bidang jaringan sebagai bidang utama namun secara bertahap diprediksi bahwa IM2 akan diarahkan ke industri content. IM2 oleh Indosat diharapkan akan menjadi ujung tombak Indosat di bidang content.

Sedangkan XL juga tidak mau kalah. Perusahaan ini tidak buta akan potensi industri content di masa depan. Bahkan sudah jauh-jauh hari mengambil ancang-ancang. Sejak tahun 2007 XL sudah menggandeng Google sebagai penyedia content rekanan dan XL sebagai penyedia jaringan di wilayah Indonesia. Meskipun jelas-jelas bukan perusahaan milik XL ataupun anak perusahaan milik XL, XL mau menjadi semacam “distributor” bagi berkembangnya Google di Indonesia. Bukanlah sebuah keputusan yang bijak di masa depan. Dan tentunya kebijakan ini tidak akan menunjang perkembangan industri content di Indonesia pada masa yang akan datang. Di sini XL hanyalah berperan sebagai kepanjangan tangan layanan Google dalam menambah pelanggan.

Dari hal-hal yang telah diungkap di atas secara jelas terlihat PT Telkom adalah sebuah perusahaan yang telah melihat tanda berkembangnya industri content dengan sangat bagus, membaca perkembangan jaringan di Indonesia dan mengambil keputusan di antara dua tanda tersebut dengan cepat dan tegas. Berbeda dengan kompetitornya yang hanya melihat tanda-tanda ini dan ragu untuk menuju ke arah ini.

Kelak saat infrastruktur yang digalang PT Telkom sebagai pondasi kerajaan content sudah siap, kita akan melihat PT Telkom membangun industri content yang besar untuk kawasan regional. Sebuah industri dengan yang dimiliki Google dengan layanan yang mengglobal seperti TV Digital on internet, layanan berita online, mendengarkan radio, video on demand bahkan layanan di sektor industri lain di luar bidang entertainment. Sebuah industri lokal berkelas regional yang dapat dengan mudah diakses di kawasan Indonesia. Sebuah pioneer di industri content. Sebuah industri yang akan muncul setelah teledensitas jaringan mencapai titik jenuhnya. Dimana babak peperangan baru telah dimulai.

Refferensi :

[4] Noor, Ahmad Rouzni. Kamis, 28 Februari 2008.”Incar 6 perusahaan TI, Telkom siapkan $ 240 juta”.Detikinet.

[5] Noor, Ahmad Rouzni. Selasa, 5 Februari 2008.”Telkom Ingin Akuisisi Perusahaan TI Mancanegara”.Detikinet.

[6] Kamis, 23 Agustus 2007.”Indosat Perluas Jaringan.” www.indosat.com.

[7] FNY.Selasa, 22 Januari 2008.”Indosat Investasi Rp 90 Milliar untuk BTS.”www.kompas.com.

[8] www.kompas.com. 29 Juni 2008 . “Indosat Investasi US $ 300 juta untuk satelit.”

[9] Noor, Achmad Rouzni.Minggu, 24 Februari 2008. “XL Prioritaskan Pembangunan Kapasitas Jaringan.” www.detikinet.com.

[10] www.xl.co.id. Rabu, 14 November 2007. “XL Resmi Operasikan Jaringan Kabel Laut Batam-Malaysia.”

04.18.08

Pangsa Pasar Industri Content di Amerika Serikat.

Ditulis dalam Operator Telekomunikasi pada 6:40 pm oleh Wisnhu Ajie

“Industri penyedia jasa menduduki peringkat ketiga setelah industri keamanan dan industri minyak dan gas jauh mengungguli industri telekomunikasi di peringkat kesepuluh dan industri penyedia jaringan dan perangkatnya di peringkat ketiga belas dalam 12 industri dengan pertumbuhan revenue paling cepat.”

Fortune 500, 30 April 2007.

 

Fenomena berkembangnya industri content yang akan mengungguli industri lain di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah banyak “dibaca” oleh perusahaan telekomunikasi besar di dunia. Hal ini dibuktikan dengan perkembangan industri layanan jasa selama lima tahun terakhir.

Jika kita tengok perkembangan 13 industri yang berkembang di Amerika Serikat selama lima tahun terakhir hingga perkembangan ketiga belas industri tersebut selama satu tahun terakhir khususnya pada pertambahan keuntungannya kita bisa melihat bahwa industri penyedia content melesat dari tidak berada pada daftar 13 besar industri dengan pertumbuhan laba tertinggi sejak lima tahun terakhir seperti terlihat pada tabel 2 berikut.

 

Top industries

Fastest Growing Industries: Growth in Profits (5 Year)

 

Industry Rank

Industry

2000 – 2005 % Annual
Growth in Profits

1

Oil and Gas Equipment, Services

45.0

2

Homebuilders

40.5

3

Petroleum Refining

35.3

4

Health Care: Insurance & Managed Care

35.0

5

Metals

33.3

6

Health Care: Medical Facilities

33.1

7

Mining, Crude-Oil Production

30.7

8

Food Production

29.9

9

Wholesalers: Diversified

25.4

10

Insurance: P & C (stock)

20.7

11

Entertainment

20.6

12

Wholesalers: Food and Grocery

19.2

13

Network and Other Communications Equipment

16.4

 

Tabel 2. Tiga belas industri di Amerika Serikat dengan perkembangan keuntungan terbesar selama lima tahun terakhir. 

Pertumbuhan rata-rata tiap industri selama lima tahun terakhir khususnya dalam pertumbuhan keuntungannya telah menempatkan industri jaringan dan perangkat komunikasi di peringkat tiga belas. Dan jika lebih diteliti di dalam tabel tersebut tidak terdapat industri penyedia content. Peringkat satunya diduduki oleh industri layanan minyak dan gas. Sangat kontras kondisinya jika kita memperkecil rentangan pertumbuhan keuntungan menjadi hanya satu tahun terakhir seperti terlihat pada tabel 3.

Industry Rank

Industry

2005 % Growth in Profits

1

Internet Services and Retailing

125.9

2

Railroads

81.7

3

Mining, Crude-Oil Production

80.8

4

Energy

79.8

5

Food Production

68.4

6

Petroleum Refining

57.8

7

Medical Products & Equipment

45.0

8

Homebuilders

39.5

9

Wholesalers: Food and Grocery

37.7

10

Pipelines

35.3

11

Aerospace and Defense

31.2

12

Wholesalers: Diversified

30.7

13

Network and Other Communications Equipment

30.4

 

Tabel 3. Tiga belas industri di Amerika Serikat dengan perkembangan keuntungan terbesar selama satu tahun terakhir. 

Pada rentangan satu tahun terakhir secara mengejutkan industri layanan content telah menduduki peringkat satu dan industri jaringan dan perangkat komunikasi lain tetap menduduki peringkat ketiga belas. Dua kesimpulan bisa kita ambil dengan membandingkan kedua tabel ini [3].

Kesimpulan pertama bahwa pertumbuhan industri jaringan dan perangkat komunikasi cenderung konstan bila dibandingkan dengan industri lainnya. Meskipun terjadi perubahan mengenai industri-industri yang ada pada daftar ini namun industri ini tetap berada pada peringkat ketiga belas.  

Kesimpulan kedua adalah bahwa industri penyedia content mengalami peningkatan yang signifikan selama satu tahun bahkan bisa mencapai 125,9%. Dan sepertinya angka pertumbuhan industri content ini tidak akan berhenti sampai di sini. Ini hanyalah permulaan dari sebuah bola salju.

Kedua kesimpulan di atas secara tidak langsung mengatakan bahwa selama satu tahun terakhir angka pertumbuhan industri content sudah “melangkahi” angka dari pertumbuhan industri penyedia jaringan ataupun industri telekomunikasi. Sebuah industri industri yang notabene adalah industri yang telah menghidupkan industri penyedia content.  

Bagaimana fenomena ini bisa dijelaskan? Satu hal yang bisa menjadi hipotesa atas hadirnya fenomena ini adalah saat pasar mengalami titik jenuh dalam artian angka teledensitas di suatu negara mencapai lebih dari 80% maka para penyedia jaringan yang tersisa akan mengalami suatu iklim kompetisi yang sedemikian ketatnya sehingga penurunan harga dan peningkatan kapasitas menjadi salah satu solusinya. Efek yang terjadi pada para penggunanya adalah mereka mendapatkan sebuah layanan internet yang sedemikian rendah dari segi harga dan kapasitas yang relatif besar. Saat semua memberikan penawaran harga sedemikian rendah dan kapasitas yang tinggi yang tertinggal di benak para pengguna bukanlah memilih media apa yang akan digunakan untuk dapat terkoneksi ke internet karena mereka bisa mendapatkan dengan mudah. Yang ada di benak para pengguna adalah layanan content apa yang akan mereka gunakan. Layanan apa yang akan memenuhi kebutuhan mereka. Yang ada di benak mereka yang sudah tidak mengalami kesulitan dalam memilih media transportasi adalah memilih tujuan akhir dari sarana transportasi tersebut.

Halaman sebelumnya · Halaman berikutnya