04.09.08

Indosat-XL Saling Tunggu Turunkan Tarif?

Ditulis dalam Berita Manajemen pada 1:36 pm oleh Wisnhu Ajie

Indosat-XL Saling Tunggu Turunkan Tarif?
Achmad Rouzni Noor II – detikinet


ilustrasi (inet)

Jakarta – Sudah lebih dari seminggu sejak pemerintah mengimbau penurunan tarif dasar seluler seiring turunnya tarif interkoneksi per 1 April 2008. Namun, baik Indosat maupun Excelcomindo Pratama (XL) sama-sama bersikeras menunggu habisnya tenggat waktu.

Kedua operator yang masuk tiga besar penyelenggara seluler di Tanah Air ini masih belum mau juga menurunkan tarif dasar layanan telekomunikasinya hingga hari ini, Rabu (9/4/2008).

Direktur Indosat Syakieb Sungkar mengaku masih menghitung penurunannya. Menurutnya, Indosat paling lambat akan mengumumkannya pada 14 April 2008 mendatang sesuai tenggat waktu yang ditetapkan pemerintah.

“Sabar saja, tarif dasar kami pasti akan turun. Lagipula, saat ini tarif promosi kami sudah sangat murah,” klaimnya di sela peluncuran voucher dan kartu prabayar Mentari “Visit Indonesia Year 2008″ di kantor pusat Indosat, Jakarta, Rabu (9/4/2008).

Sementara, GM Corporate Communication XL Myra Junor juga masih belum mau berkomentar banyak soal penurunan tarif dasar percakapan dan pesan singkat (SMS). “Tunggu saja kejutannya,” tandas dia dalam kesempatan lain.

Baik Indosat maupun XL, belakangan ini sangat kentara tengah melancarkan perang promosi mengenai tarif. Tengok saja ketika XL meluncurkan promosi baru tentang tarifnya, sudah pasti tak lama kemudian, Indosat akan meluncurkan program sejenis.

sumber : Noor, Achmad Rouzni. Rabu, 9 April 2008. “Indosat-XL Saling Tunggu Turunkan Tarif?” www.detikinet.com

Tiga Mode Komunikasi.

Ditulis dalam Teknologi Telekomunikasi pada 1:26 pm oleh Wisnhu Ajie

Dunia telekomunikasi mengenal tiga mode mendasar dalam berkomunikasi. Mode ini bisa diaplikasikan bahkan dikondisi apapun dan teknologi apapun dalam konteks pertelekomunikasian.

a. Simplex.
Adalah mode komunikasi satu arah. Di sini pihak penerima tidak dapat memberikan informasi balikan. Atau sering juga disebut komunikasi broadcast (media penyiaran). Contoh yang sering menggunakan mode ini adalah siaran televisi dan siaran radio. Disebut mode simplex karena saat anda menonton sinetron anda tidak diperkenankan untuk berkomunikasi dengan para pemain di sinetron tersebut. Kalo boleh ngobrol ama pemainnya bakalan berubah kali jalan cerita sinetronnya. Contoh lainnya adalah saat anda dimarahi oleh orang tua atau guru anda. Ya di sini anda tidak diperkenankan melakukan perlawanan karena inilah mode simplex alias satu arah.

Mode ini dapat diaplikasikan saat media transmisi yang digunakan dikuasai penuh oleh pihak pengirim (Secara ). Keseluruhan bandwidth digunakan oleh pengirim.

b. Duplex / Full Duplex.
Perlu dibaca ulang ini bukan durex. Ini duplex. Duplex adalah media komunikasi dua arah. Dimana pihak pengirim dan penerima bisa berkomunikasi dua arah secara bersama-sama. Contoh media yang menggunakan mode ini adalah telepon baik selular maupun fixed telepon rumah. Kedua belah pihak bisa berbincang secara bersama-sama. Mode ini tidak disarankan untuk orang berpacaran yang saling berkomunikasi karena bisa ribut dua belah pihak satu ngobrol ngalor satu ngidul mana nyambung.

Mode komunikasi ini dapat diplikasikan saat media transmisi dibagi dua. Satu untuk masing-masing sisi.

c. Half Duplex.
Adalah media komunikasi dua arah. Namun berbeda dengan duplex, half duplex berkomunikasi dua arah secara saling bergantian. Jadi saat terjadi komunikasi antara A dan B. Saat A mengirim informasi (berbicara) maka B akan menerima informasi (mendengarkan). Demikian terjadi proses yang sebaliknya (vice versa). Contoh media yang menggunakan media ini adalah radio walkie talkie. Mode ini sangat disarankan untuk pasangan yang sedang berpacaran karena komunikasi yang sebenarnya adalah saat satu pihak menyampaikan curahan hatinya maka saat yang satunya untuk mendengarkan.

Pelet dan Telekomunikasi

Ditulis dalam Filosofi Telekomunikasi pada 1:15 pm oleh Wisnhu Ajie

Media telekomunikasi dewasa ini berkembang sedemikian pesatnya mulai dari yang awalnya berasal dari surat melalui kurir, surat merpati pos, telegraf, radio, telepon, televisi, faksimile, handphone hingga komputer dengan internetnya telah membawa kita ke dunia baru. Bahkan sekarang orang bisa bertatap muka meskipun terpisah jarak diantara kita (ciee roman banget nich). Namun ada beberapa tipe media telekomunikasi yang sudah ada sejak dari dulu namun belum pernah dikategorikan telekomunikasi oleh dunia internasional atau bahkan nasional sekalipun. Bahkan standard ITUnya belum ada. Contohnya : pelet, santet ataupun pengobatan supranatural jarak jauh. Mengapa saya menggolongkan tiga hal di atas sebagai telekomunikasi? Karena keempat hal yang dipersyaratkan untuk dapat masuk kategori telekomunikasi (pengirim, penerima, jarak dan informasi) semuanya ada di sana. Contoh : pelet. Di sana ada pengirim yakni seseorang (umumnya laki-laki) yang ditolak cintanya. Biasanya karena keterbatasan kualitas wajah atau kapasitas dompet. Di sana ada sang penerima pelet yakni seseorang (umumnya wanita) yang dikejar-kejar banyak penggemar. Biasanya cantik mempesona dan sangat kontras bila harus disandingkan dengan pihak pengirim wajar kan kalo sang cewek nolak. Di sana ada jarak yang memisahkan mereka berdua. Kasian banget kalo gak ada jarak. Bencana buat sang cewek dan anugrah buat sang cowok. Dan yang terakhir ada informasi yang dipertukarkan yaitu keinginan sang cowok yang menggebu-gebu untuk mendapatkan pujaan hatinya. Dan informasi balikan berupa hasrat tak tertahankan untuk muntah dari pihak wanita. Sayang hasrat ini tidak diketahui atau seringnya pura-pura tidak tahu oleh pihak pria. Kalo mau ditilik lagi ini adalah komunikasi searah yaitu sang pengirim memaksakan kehendak kepada sang penerima tanpa menghiraukan sinyal balikan. Dunia sungguh kejam pada makhluk secantik itu. Xixixi Nahh… karena memenuhi pra syarat telekomunikasi itu maka sebenarnya pelet bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk telekomunikasi. Sebenarnya menjadi pertanyaan besar mengapa ilmu pelet ini tidak diakui oleh dunia internasional lewat ITU-T atapun oleh dunia nasional lewat Dirjen Postel. Mungkin satu kendala yang bisa menjawab pertanyaan tersebut adalah tidak memungkinkan melakukan pengukuran terhadap media yang dikirimkan melalui pelet dan santet. Juga pengukuran terhadap dampak penerima? Apakah pesan sudah berhasil diterima atau tidak? Sayang sepertinya tidak ada yang berminat melakukan percobaan di laboratorium untuk menghitung efek-efeknya. Jika parameter-parameter yang ada di dalamnya bisa diukur maka akan mudah dalam membuat peraturan atau pun standardisasi yang harus digunakan. Tentu akan mudah juga bagi bidang industri untuk melakukan mass production. Tentunya jangan lupa untuk dipatenkan sebagai media transmisi yang asli dari Indonesia (Wahh.. bisa-bisa mengalahkan patentnya CDMA oleh Qualcomm nich… :D ) Kalau memang ini menjadi ilmu telekomunikasi maka gak bisa dibayangin soal yang harus dikerjakan oleh mahasiswa teknik telekomunikasi dalam mata kuliah Sistem Komunikasi Pelet Lanjut. Mungkin kurang lebihnya seperti ini : Hitung berapa gram menyan yang harus dibakar untuk dapat mengirim 3 buah paku berkarat dengan berat masing-masing 1 gram jika calon korban berada pada jarak 30 km dari penerima. Asumsi yang digunakan adalah cuaca cerah tidak ada aral melintang dan sang korban bukan seorang religius sehingga tidak memiliki firewall. Hehehe soal yang aneh. Bagi yang bisa menyelesaikan harap kirim jawaban ke nomor hp di bawah ini dengan register terlebih dahulu Ketik Reg spasi JAWAB. Hadiahnya sangat menarik. Tiga kilo paku berkarat akan langsung dikirim ke perut Anda oleh Ki Joko Pinter. Pengumuman akan saya kirim langsung dari hp saya. Itupun kalo ada pulsa hehehe.